KETIKA PARA KOKI DIGUSUR TUKANG SAYUR: Menumbuhkan Sikap Kritis dalam Beragama

http://www.facebook.com/notes/sabdho-palon/ketika-para-koki-digusur-tukang-sayur-menumbuhkan-sikap-kritis-dalam-beragama/409667549275

oleh Sabdho Palon pada 04 April 2010 jam 15:58
 
Catatan ini saya ambil dari sebuah artikel yang menurut saya sangat baik, yang berjudul “Ketika para koki digusur tukang sayur dan tukang sayur pun menjadi koki” karya Sayed Mahdi Al-Jamalullail.”
Artikel tersebut saya kutip lengkap tanpa edit. Semoga bermanfaat…

_________________________________________________

Sewaktu menghadiri shalat Jumat, saya sering mendengar khatib berkata: “sebagai umat Islam kita harus menuruti dan menjalankan apa-apa yang diperintahkan dalam Alquran, dan menjauhi apa-apa yang dilarang di dalam Alquran agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa…” Ucapan ini memang mudah diucapkan, dan terkesan mudah pula dilakukan (bagi yang mau melakukan). Ketika kesekian kalinya saya mendengar ucapan ini, saya menjadi teringat satu problema dalam ilmu fiqih yang diangkat pertama kali oleh Imam Al-Syafi’i (w. 204 H/820 M) dalam kitabnya Al-Risalah. Berikut ini adalah kisahnya (biar menarik dibaca, kisah ini tidak lagi seharfiah redaksi aslinya) :

“Suatu ketika seorang laki-laki berangkat ke pasar. Ia berniat membeli budak. Ia kemudian membeli budak perempuan. Setelah budak itu menjadi miliknya, dan tinggal di rumahnya, ia pun berkali-kali melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan itu.
[Karena perbudakan sekarang menjadi sesuatu yang emoh untuk difikirkan, saya akan menjelaskan sedikit: di dalam fiqih Islam hubungan seksual antara laki-laki pemilik budak dengan budak perempuan tidak dilarang. Tidak ada akad nikah, pemberian mas kawin, atau prosesi apa pun sebelum hubungan seksual itu berlangsung. Jika budak perempuan itu hamil dan melahirkan anak, maka anak itu statusnya tetap budak, tetapi ibunya naik status sedikit menjadi ummu walad, tetapi masih tetap budak. ]

Setelah beberapa lama, si laki-laki menjadi tahu bahwa budak yang dibelinya ini adalah saudara perempuannya. Nah lho… Besar kemungkinan si laki-laki adalah mantan budak yang kini merdeka dan menjadi berkecukupan, dulu orangtuanya juga budak, saudara-saudarinya pun budak. Atau bisa jadi, budak perempuan ini seayah dengannya tapi lain ibu, dan karena berbagai hal yang tragis, si adik perempuan pun akhirnya menjadi budak dan diperjualbelikan. Terus jadi gimana masalah ini?

Kita lihat pokok masalahnya …..
Si laki-laki membeli budak perempuan dan kemudian melakukan hubungan seksual dengan budaknya itu. Keadaan ini dibolehkan oleh Alquran, malah dianggap baik-baik saja. Hasanah bi dzatiha. Alquran di dalam Surah Al Mukminun ayat 5 membolehkan perilaku seperti ini:

qad aflaha’l mu’minun
alladzina hum fi shalatihim khasyi’un
walladzinahum ’ani’l laghwi mu’ridhun
walladzinahum lizzakati fa’ilun
walladzinahum li furujihim hafizhun
illa ’ala ajwazihim aw ma malakat aymanuhum, fainnahum ghairu malumin
(Alquran Surah Al Mu’minun 1 – 5)

[sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
dan orang-orang yang menunaikan zakat
dan orang-orang yang menjaga penisnya
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela ]

Ketika lama kemudian si laki-laki menjadi tahu bahwa budak perempuan itu adalah adiknya, maka hubungan ini menjadi incest, dan sangat dilarang. Qabihah bi dzatiha. Haram tanpa kompromi, karena Alquran dalam Surah An-Nisa ayat 23 melarangnya:

Hurrimat ’alaikum ummahatukum, wa banatukum, wa akhawatukum, ….
(diharamkan bagi kamu sekalian untuk menikahi ibu-ibumu [maksudnya ibu kandung terus ke nenek terus ke atasnya nenek], anak-anak perempuanmu [anak terus ke cucu dan seterusnya], dan saudara-saudara perempuanmu ……… dst.)

Dalam kasus di atas, si perempuan adalah saudarinya dan sekaligus budaknya. Kebolehan melakukan hubungan seksual dengan budak yang ditetapkan dalam Surah Al Mu’minun ayat 1-5 menjadi tidak relevan. Surah An-Nisa ayat 23 harus dimenangkan. Kenapa harus dimenangkan? Bisa jadi hati nurani dan akal sehat si laki-laki yang berkata demikian. Atau bisa juga sebuah fatwa dari seorang ahli fiqih yang mengangkat dua kaidah fiqih seperti: dar`u’l mafasidi awla min jalbi’l mashalihi (menghilangkan keburukan lebih utama dari memperoleh kemaslahatan) dan fa idza ta’aradha mafsadatun wa mashlahatun quddima daf’ul mafsadati ghaliban (apabila bertemu keburukan dan kebaikan dalam satu masalah, maka utamakanlah menghilangkan keburukan).

 

Kaidah-kaidah fikih di atas saya kutip dari kitab berjudul al-Asybah wa’l-Nazhair karya Ibnu Nujaim (w. 970 H/ 1562 M). Kaidah-kaidah ini adalah hasil penalaran hukum para fuqaha dari berbagai dalil seperti Alquran, hadis Nabi Muhammad, fatwa-fatwa para mujtahid besar, dan hal-hal lain. Jika pun kaidah-kaidah ini dilepaskan dari sumber-sumber religius, sifatnya tetap rasional, karena dalam banyak kasus, bunyi kaidah-kaidah fiqih menjadi sama dengan maxim hukum berbahasa Latin yang berasal dari penalaran rasional, contohnya seperti al-hukmu yaduru ma’a ‘ilatihi wujudan wa ‘adaman (hukum itu akan terus berlaku bila reason-nya masih terus ditemukan dan berlangsung, dan hukum itu menjadi tidak berlaku lagi jika reason-nya tidak ada lagi) yang sama dengan mutata legis ratione mutatur et lex (the law is changed if the reason of law is changed).

Saya mengangkat kisah di atas agar kita memikirkan kembali bahwa Alquran dan hadis sesungguhnya adalah bahan mentah. Seorang ahli fiqih dapat diibaratkan seorang chef (koki profesional) yang mengolah bahan-bahan mentah tersebut. Kitab-kitab fiqih klasik yang ditulis oleh para fuqaha di masa lalu dapat diibaratkan dengan kumpulan resep-resep masakan yang telah mengolah banyak bahan mentah menjadi masakan yang lezat. Membuang semua resep-resep itu tidak menjamin hasil kerja koki di zaman sekarang lebih baik dari yang dihasilkan para koki di masa lalu.

Para fuqaha klasik dan kitab-kitab fiqih yang mereka hasilkan adalah pilar terakhir rasionalitas di dalam tradisi pemikiran Islam, setelah filsafat dan ilmu kalam. Tradisi fiqih adalah tradisi rasional, karena peran akal sehat menjadi sangat menonjol ketika berhadapan dengan dalil-dalil yang berbenturan dan ambigu. Kini pilar terakhir ini semakin lama semakin lenyap, perlahan-lahan hilang ditengah menjamurnya para ”koki” tanpa resep. Para ”koki” yang pada hakikatnya hanyalah ”tukang sayur”. Para “tukang sayur” ini memang mengetahui beragam jenis sayur mayur, ikan, dan bawang, tetapi tidak pernah belajar menjadi ”koki” dan menganggap tidak ada gunanya mempelajari apa yang ditulis oleh para ‘koki”. Kini mereka menggusur para ”koki”, dan mulai menyajikan bahan-bahan mentah tanpa diolah untuk sarapan hingga makan malam.

Para “koki” di masa lalu memang menghasilkan banyak perbedaan resep masakan, dan beberapa “chef” membentuk aliran cara memasak yang menjadi mazhab para “koki” yang hidup di era selanjutnya. tetapi para “tukang sayur” di masa kini gerah dengan banyaknya mazhab para koki di masa lalu, mereka lalu memaksakan makanan yang orisinal, tunggal tanpa perbedaan cara memasak, sesuatu yang otentik tanpa perubahan, tanpa perlu dimasak.

Para ”tukang sayur” ini bisa ditemukan di banyak tempat, dan runyamnya lagi para “tukang sayur” ini sekarang semakin banyak di Indonesia. Di Saudi Arabia para “tukang sayur” ini berkumpul di al-Lajnah al-Daimah li’l-Buhuts al-’Ilmiyyah wa’l ifta’ (The Permanent Council for Scientific Research and Legal Opinions), namanya aja yang wah..

Di Lajnah ini berkumpullah pemuka-pemuka Islam Wahabi, seperti ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (1911-1999), sampai meninggalnya ia adalah mufti agung Kerajaan Saudi Arabia. Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin (1927 – …. ). Abdullah bin Jibrin (1930 – …. ); dan Shalih bin Fauzan yang juga memimpin al-Ma’had al-‘Ali li’l Qudah (Supreme Judicial Council).

Sekarang coba kita perhatikan beberapa hasil fatwa kaum Wahabi ini :

PERTANYAAN 1
Saya ingin mengirimkan foto saya kepada istri, keluarga, dan teman-teman saya, karena sekarang saya berada di luar negeri. Apakah hal ini dibolehkan?

JAWABAN (oleh komite ulama Lajnah dalam Fatawa al- Lajnah)
Nabi Muhammad di dalam hadisnya yang sahih telah melarang membuat gambar setiap makhluk yang bernyawa, baik manusia atau pun hewan. Oleh karena itu Anda tidak boleh mengirimkan foto diri Anda kepada istri Anda atau siapa pun.

PERTANYAAN 2
Apakah hukumnya jika seorang perempuan mengenakan beha (kutang atau bra) ?

JAWABAN (oleh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa al- Lajnah)
Banyak perempuan yang memakai beha untuk mengangkat payudara mereka supaya mereka terlihat menarik dan lebih muda seperti seorang gadis. Memakai beha untuk tujuan ini hukumnya haram. Jika beha dipakai untuk mencegah rusaknya payudara maka ini dibolehkan, tetapi hanya sesuai kebutuhan saja.

PERTANYAAN 3
Apakah hukumnya Saudi Arabia membantu Amerika Serikat dan Inggris untuk berperang melawan Irak? (ini kasus Perang Teluk pertama sewaktu Bush senior jadi Presiden Amerika Serikat)

JAWABAN (oleh Abdullah bin Jibrin dalam Fatawa al- Lajnah)
Hukumnya adalah boleh (mubah). Alasannya karena (1) Saddam Husein telah menjadi kafir, jadi Saudi Arabia memerangi orang kafir dan bukan seorang Muslim (2) Mencari bantuan dari Amerika Serikat dan Inggris adalah suatu hal yang mendesak (dharurah) (3) Tentara Amerika sama statusnya dengan tenaga kerja yang dibayar. Tentara Amerika bukanlah aliansi kita, tetapi kita mempekerjakan mereka untuk berada di pihak umat Islam untuk berperang melawan orang kafir (yaitu Saddam Hussein).

Tampaknya Lajnah ini mengurus banyak hal, dari beha hingga perang teluk. Yang menyedihkan adalah fatwa-fatwa itu tampak berasal dari kondisi absennya rasionalitas yang cukup akut. Lenyapnya akal sehat untuk jangka waktu yang cukup lama. Fatwa-fatwa di atas juga tidak menunjukkan adanya koherensi, tidak terlihat dipakainya metode penetapan hukum yang dikembangkan para fuqaha klasik, tidak ada pula pendekatan melalui kaidah-kaidah fikih, dan tidak ada usul fikih. Yang tersisa hanyalah wacana hukum yang otoritarian.

Pada tahun 1990-an dulu, K.H. Ali Yafie yang benar-benar memahami fikih, seorang “koki” dengan banyak jam terbang, mengangkat kaidah fikih: idza ta’aradha mafsadatani ru’iya a’zhamuhuma dhararan bi irtikabi akhaffihima (apabila bertemu dua keburukan, maka pertimbangkan mana yang paling besar dampak keburukannya, lalu pilihlah yang dampak keburukannya lebih kecil).

Kaidah fikih di atas ia jadikan justifikasi ketika ia berpendapat bahwa lokalisasi bagi para pekerja seks komersial (psk) lebih baik daripada membiarkan mereka mencari pelanggannya di mana-mana. Karena memang belum ada hukum yang jelas melarang prostitusi, dan prostitusi tampaknya tidak bisa dihentikan sebelum perekonomian, kesempatan pendidikan, dan kesempatan kerja menjadi lebih baik. Apa yang terjadi kemudian? K.H. Ali Yafie dengan segera dihujat dan dikecam oleh banyak ”tukang sayur”. Ia dituding sebagai kiai sesat, dan bermacam-macam julukan negatif lainnya. Padahal setahu saya, KH. Ali Yafie adalah sosok ulama sederhana yang berfikir dan bernalar dari sudut pandang ilmu fiqih.

Di Jakarta, saya pernah menghadiri ceramah seorang penceramah kondang yang sudah dianggap ulama oleh yang menganggap (mungkin tidak etis jika saya menyebut nama ”tukang sayur” ini). Di akhir ceramah, ada yang bertanya: ”Pak Ustadz, apakah hukumnya meng-qadha shalat”? (meng-qadha shalat adalah melakukan shalat fardhu sebagai ganti dari shalat fardhu yang tidak dilakukan pada suatu waktu). Pak Ustadz ini dengan yakin dan berwibawa langsung menjawab: ”di dalam Islam tidak ada yang namanya qadha shalat.” Jawaban yang luar biasa, karena setahu saya empat mazhab fiqih utama (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanbaliyah) membolehkan qadha shalat kecuali mazhab Zahiriyah yang minoritas. Tapi sebenarnya bagi saya yang paling menarik adalah kata-kata “di dalam Islam……” Ini adalah jawaban standar para “tukang sayur”. Dalam kitab-kitab fiqih klasik tidak pernah tertulis jawaban “di dalam Islam…..” atau “menurut Islam….”, yang ada hanyalah “di dalam mazhab Syafi’i…” atau “menurut pendapat yang berlaku di kalangan mazhab Hanafi….”. Para fuqaha klasik ini rendah hati, mereka tidak pernah mengklaim. Tapi para “tukang sayur” ini benar-benar arogan. Ketika ia menyatakan “di dalam Islam…” atau “menurut Islam…” maka secara tidak langsung ia telah menggusur setiap narasi atau siapa saja yang tidak sependapat dengan dia dari ruang lingkup Islam.” Menggusur… seperti Sutiyoso saja. Bayangin aja empat mazhab fikih besar koq digusur sehingga sekarang berada di luar Islam.

Ketika isu penolakan presiden perempuan menghangat, saya sempat dijadikan obyek indoktrinasi oleh seorang ”tukang sayur”. Ia berasal dari perkumpulan ’Jama’ah Tabligh’. (menurut seorang teman, cara dakwah door to door Jama’ah Tabligh ini mirip dengan ’Saksi Jehova’ dalam Kristen Protestan. Saya pikir asyik juga kalau bisa mempertemukan antara Jama’ah Tabligh dan Saksi Jehova, biar mereka saling mendakwahi, saling menggembalai. Minimal kalau difilmkan dengan kamera video digital bisa menang di Festival Film Indie di MTV).

“tukang sayur” dari Jama’ah Tabligh ini dengan segera mencecar saya, berikut dialognya, huruf kapital menandakan perkataan dari “tukang sayur”.

”ANDA MUSLIM KAN, ANDA SETUJU KALAU PEREMPUAN JADI PRESIDEN?”
“setuju saja, asal dia mampu, memang kenapa?”

“LHO, ANDA INI GIMANA, ISLAM MENGHARAMKAN PRESIDEN PEREMPUAN..”
“kok Anda tahu Islam mengharamkan presiden perempuan?”

“ADA HADISNYA. NABI MUHAMMAD MELARANG PEMIMPIN PEREMPUAN, KALAU PEREMPUAN JADI PEMIMPIN MAKA RUSAKLAH NEGARA.”
“Oo.. begitu ya. Jadi menurut Bapak bagaimana cara kita menjalankan hadis Nabi secara benar?”

“HARUS APA ADANYA, GIMANA DI DALAM HADIS YA YANG BEGITU ITU KITA JALANKAN, SAMI’NA WA ATHA’NA. SAYA DENGAR SAYA TAAT. GAK BOLEH DIUBAH-UBAH, JANGAN DI BOLAK-BALIK MAKNANYA!”
“oo.. jadi harus apa adanya?”

“IYALAH!”
“Bapak pernah tau gak ada hadis yang sama sahihnya dengan hadis pelarangan pemimpin perempuan?”

“APA TUH?”
“al-aimmah minal Quraisy, pemimpin itu haruslah berasal dari Suku Quraisy. Kalau menurut hadis ini hanya orang Arab dari suku Quraisy yang boleh jadi presiden. Laki-laki pun kalau bukan Suku Quraisy gak boleh jadi presiden di Indonesia Pak.. Kita harus impor dari Arab.”

“YAAH, SITUASINYA KAN UDAH BEDA, KITA HARUS LIHAT KEADAANNYA SEKARANG DONG..”
“tapi tadi bapak bilang hadis harus dijalankan apa adanya, gak boleh dibolak-balik pemahamannya?”

“…?!?!”

Tahun 1999, di kampus IPB Bogor, dalam suatu kesempatan saya pernah iseng-iseng menghadiri tabligh akbar organisasi Hizbut Tahrir. Organisasi ”tukang sayur” internasional yang radikal. Salah seorang penceramah dengan gagah perkasa mengatakan ”nation state, demokrasi, dan hak-hak azasi manusia bertentangan dengan Islam.” Para hadirin yang hampir semuanya adalah mahasiswa-mahasiswi IPB Bogor serentak merespons dengan teriakan ”Allahu Akbar”. Luar biasa, mahasiswa-mahasiswi sebuah institut negeri yang bergengsi dengan gampang diindoktrinasi dan dicuci otak oleh komplotan ”tukang sayur”. Hebatnya lagi “tukang sayur” itu tidak mengangkat dalil apa pun ketika ia mengatakan nation state, demokrasi, dan hak-hak azasi manusia bertentangan dengan Islam, ia tidak mengutip Alquran dan hadis seperti lazimnya “tukang sayur profesional”. Tampaknya ada spesies baru “tukang sayur” di IPB Bogor ini, spesies yang paling memprihatinkan.

Ketika acara di IPB itu selesai, saya keluar dari ruangan itu. Saya perhatikan mahasiswa IPB yang rata-rata berjenggot, memakai celana gantung (di atas mata kaki), yang mahasiswi terbungkus jilbab rapat, ada juga yang bercadar. Sebagian mereka memegang buku-buku. Saya melirik melihat judulnya, ada Statistik, Ekonomi Pertanian, Teori Ekonomi Mikro, Ekonomi Pembangunan, Ilmu Kimia, dan banyak lagi. Semuanya ilmu-ilmu yang dibangun di atas rasionalitas dan dipahami secara rasional. Tetapi di mana mereka menitipkan rasionalitas ketika menghadiri indoktrinasi para “tukang sayur” di ruangan tadi?
Para ”tukang sayur” dengan kemampuan retorika yang luar biasa akhirnya memang meraih banyak pendengar dan pengikut, lambat laun para ”tukang sayur” ini tampaknya akan menang perang dalam menggusur para ”koki”.

Saya jadi teringat sebuah hadis Nabi Muhammad yang pernah saya dengar di pesantren dulu (tapi sayangnya saya lupa redaksinya dan sampai sekarang belum ketemu perawinya), kurang lebih hadis itu artinya begini: “akan datang suatu zaman bagi umatku di mana pada masa itu banyak sekali pendakwah, dan sedikit ulama.”

Hadis di atas itu sekarang saya pahami menjadi “akan datang suatu zaman bagi umatku di mana pada masa itu banyak sekali ‘tukang sayur’, dan sedikit sekali ‘koki’.”

wallahu a’lam bi’l shawab.

Sumber: http://idhamdeyas.blogspot.com/2005/03/ketika-para-koki-digusur-tukang-sayur.html

Iklan
Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

View Point: When prosecution becomes persecution

http://www.thejakartapost.com/news/2011/04/21/view-point-when-prosecution-becomes-persecution.html

Julia Suryakusuma, Jakarta | Thu, 04/21/2011 9:46 AM | Opinion

First we had Ariel “Peterporn”, then something even better. Yep, “politico-porn”, courtesy of Arifinto, former member of the House of Representatives (DPR).

Huh! Some representation!

Arifinto was the latest person to be involved in a spate of alleged corruption and sex scandals involving Prosperous Justice Party (PKS) lawmakers. His case ended with vows of repentance and his resignation on 12 April 2011, one day after he was caught watching porn on a tablet under a table in the DPR.

Everyone knows sex scandals often lead to the downfall of politicians or public figures. Arifinto’s fall was all his own work, but sometimes these scandals can be manufactured to bring prominent people down. It’s an old trick, but a very effective one.

And that’s what seems to be happening to Anand Krishna. A renowned spiritual leader, head of the Anand Ashram and author of more than 130 books, Anand has been accused of sexual harassment by two former female students.

Early last year, one of them pressed charges against Anand. His supporters have said the women were attention-seekers, and worse, that the sexual harassment case was just an excuse to nail Anand for a bigger “crime”: religious difference.

Strangely, this was confirmed by the accuser’s lawyer Agung Mattauch himself: “Harassment is just an entry point for a more serious problem, religious blasphemy”.

The trial has been ongoing since Aug. 25 last year but so far it’s going nowhere. People have been questioning why, since Anand has complied with all the court’s conditions.

The accuser claims she was hypnotized and brainwashed by Anand to comply with his every wish, including sexual ones (short of intercourse, she admits).

The accuser also claimed she had repressed the memory of the alleged harassment, and by undergoing hypnotherapy was able to recall the events.

However, there’s a problem here, because repressed memory theory is highly controversial, and is now widely discredited as unreliable. Should it be used as evidence in a court case?

The judges, however, have already made remarks suggesting Anand was guilty, even though the trial remains ongoing. Noted human rights lawyer Adnan Buyung Nasution (who’s practiced law for 50 years) was aghast.

“This is the first time I have ever seen anything like this… a judge who pronounces a defendant guilty before he delivers the official verdict of court.”

It gets worse. Anand was arrested and jailed on March 9. Desperate, he embarked on a hunger strike. After 44 days nothing has been done about this, so he’s now starving to death. He may not even make it to the verdict.

In today’s Indonesia, where the persecution of religious minorities is fast becoming a spectator sport, many Islamist “hard-liners” dislike Anand and feel threatened by his teachings. After all, he teaches universal love, peace, spiritualism, health and healing — ideas that are the total opposite of their fixation on religious fanaticism, sectarianism, bigotry, hatred and violence.

Anand is also popular and successful. In the last 19 years he’s spoken to millions through TV, radio, print media, in-house trainings, and, of course, meetings and courses at his Anand Ashram in Jakarta, and the three other meditation centers in Bogor, Bali and Yogyakarta.

His message of universal love and peace has appealed to many Muslims, especially from the middle and upper classes. And that’s haram and polytheistic says the Islamic Umat Movement of Indonesia (GUII), whose membership consists largely of former thugs.

On top of all these unforgivable “crimes”, Anand also made a speech in 2008 against the Anti-Pornography Bill before it was passed. You’ll remember it was passed into law in October of that year in the face of widespread opposition, including from many Muslims. Anand’s speech didn’t do much to help his popularity rating with the hard-liners.

Isn’t it strange that most of the questioning in court related more to Anand’s teachings rather than the sexual harassment claims? Hmm … The trial couldn’t possibly be an excuse to bring him down because his spiritual ideas are different — could it?

Anand is being subjected to another trial outside the court as well… by the media. From the start, it was a case of “guilty until proven innocent” as the headlines show: “Anand Krishna’s Victim Testifies”, “Interview with X, Victim of Anand Krishna’s Obscene Act”, and “Uncovering Anand Krishna’s Deviance”.

In many other countries, newspapers are banned from mentioning the names of people facing serious allegations until they are convicted, to ensure they get a fair trial. But here our media is making people’s suffering into entertainment, confusing salacious speculation with news, in true kampong gossip style. Hey, where’s the Press Council in all this?

And where’s the Judicial Commission too? After much delay, they finally had a look at the case of Antasari Azhar, the former Corruption Eradication Commission head, finding indications that the judges in Antasari’s trial ignored important evidence and testimony that might have cleared him of murder charges.

Maybe they’ll have a go at Anand’s case some time too — although by then he could be dead. In the meantime, Anand’s character has been well and truly assassinated (not that either kind of death ever bothers our authorities much).

Whatever he did or didn’t do, Anand is in deep trouble because he has unconventional spiritual views, and it looks like he’s being bullied to death for them.

But remember, we are all ultimately minorities of one, and his fate is also ours. So when are we going to stop letting the religious bullies have their way?

The writer (www.juliasuryakusuma.com) is the author of Jihad Julia

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Membongkar Sejarah Ajaran Salafi Wahabi

Sumber:

http://oase.kompas.com/read/2011/04/04/23354339/Membongkar.Sejarah.Ajaran.Salafi.Wahabi

Judul Buku: Sejarah  Berdarah Sekte Salafi Wahabi Penulis: Syaikh Idahram Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta Terbit: Maret 2011 Tebal: 276 Halaman Peresensi: Nurcholish

Radikalisme sesungguhnya banyak menjangkiti berbagai agama dan aliran-aliran sosial, politik, budaya dan ekonomi di dunia ini. tetapi pada masa pasca perang dingin, yang menjadi fokus penggunjingan di dunia ialah apa yang diistrilahkan dengan “radikalisme islam”. Isu sentral dalam penggunjingan ini adalah munculnya berbagai gerakan “islam” yang menggunkan berbagai bentuk kekerasan dalam rangka memperjuangkan dan mendirikan “negara Islam”.

Hakikat Islam sebagai agama peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam, mulai meretas. Islam yang nampak kepermukaan bukanlah islam sebagai agama universal dan menginginkan adanya peramaian dunia, akan tetapi islam ekstrimis yang identik dengan kekerasan (terorisme). Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi; Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama` yang ditulis oleh Syaikh Idahram ini, menunjukkan bagaimana kelompok islam Wahabiyah turut andil adanya kekerasan yang akhir-akhir ini marak terjadi.

Untuk menyebarkan ajaran-ajarannya, Wahabi megatasnamakan dirinya sebagai kelompok salafi yang dikenal dengan salafi Wahabi. Sedangkan istilah salafi sendiri sebenarnya adalah mereka (manusia) yang hidup di masa rasulullah dan yang mengikuti mereka (tabiin) kemudian mengikuti mereka (tabiit-tabiin). Dalam artian, salafi adalah generasi pertama hingga ketika setelah rasulullah wafat.

Penggunaan kata-kata salafi ini yang kemudian kelompok Wahabi banyak mendapatkan pengikut. Secara kasat mata, ajaran yang di lakukan hampir sama dengan kelompok islam lainya. Akan tetapi penguasaan terhadap al-qur`an dan pemahamannya mengenai islam haya sebatas kulit luarnya saja. Islam yang sejatinya adalah rahmatan lil alamin, berubah menjadi islam ekstrim yang ditakui banyak orang.

Maka dari itu, sering diatakan bahwa kelompok Salafi Wahabi adalah aliran Islam yang tidak mengetahui sepenuhnya hakikat Islam. Atau dengan kata lain, mereka adalah kelompok yang tidak memahami islam secara kompleks. Mereka rata-rata adalah hafal al-qur`an, setiap malam salat tahajud, hampir setiap hari puasa sunnah, jidatnya hitam, dan lututnya kapanan untuk sujud. Dengan kata lain, mereka tekun manjalankan ibadah dan amalan-amalan sunnah, akan tetapi paradigma yang mereka gunakan adalah paradigma ekstrim.

Menelisik lebh jauh, Said Agil  Siraj menuliskan, lahirnya sekte ekstrim  dalam sejarah islam – yang mana itu sangat dicela oleh Nabi muhammad – sudah ada  sejak abad pertama Hejriyah. Kelompok ini mulai berani menunjukkan diri di hadapan nabi Muhammad pada bulan syawal tahun 8 hijeriyah, saat nabi Muhammad baru saja memenagkan perang Thaif dan Huiain. Tiba-tiba seseoang yang bernama Dzul Khuwaishirah dari keturunan Bani Tamim maju kedepan dengan sombongnya sambil berkata, “berlaku adillah, hai Muhammad!” nabi pun berkata, “celakalah kamu, siapa yang akan berbuat adil jika aku saja tidak berbuat adil?” lantas umar berkata, “wahai Rasulullah, biarkan kupenggal saja lehernya.” Mabi menjawab, “biarkan saja!.”

Ketika orang itu berlalu nabi bersabda, “akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur`an , tapi tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami subtansi misi-misi Al-Qur`an dan hanya hafal di bibir saja). Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Kalau aku menemui mereka niscaya akan kupenggal lehernya seperti halnya kaum ‘Ad.” (HR. Muslim pada kitab Az-Zakah, bab Al-Qismah). (hal 11)

Kelompok salafi Wahabi ini hampir persis meniru cara hidup Rasulullah Mereka memakai sorban, bercelana diatas tumit dan berenggot panjang sejatinya itu bagus. Tetapi, hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan ajaran Islam. Ulama` terdahulu, seprti Imam Syafi`I, Al-Ghozali, dan sejumlah tokoh Islam terkemuka lainnya juga mempunyai jenggot panjang dan memakai sorban. Namun, Islam tidak cukup hanya dengan jenggot dan sorban saja. Sebab, ajaran Islam sangat luas dan tidak bisa diwakili hanya dengan simbol belaka.

Simbol adalah kulit yang siapa saja bisa melakukannya, hingga orang jahat sekalipun bisa melakukan hal itu dengan mudahnya. Jangan sampai hanya dengan simbol umat Islam terpancing untuk menjustifikasi bahwa orang itu muslim puritan atau abangan. Keterjebakan ini kemudian menghasilkan opini publik bahkan dunia mengatakan bahwa Islam adalah agama teroris, atau teroris diidentikkan dengan islam. Padahal ditelisik lebih jauh, Islam tidak mengajarkan terorisme dan ajaran ekstrim lainnya.

Buku ini hadir sebagai bentuk penolakan atas mereka (kelompok islam ) yang menodai agama Islam dengan kekerasan yang identik dengan Islam fundamentalis dan Islam ekstrim. Untuk memahami kelompok-kelompok yang seperti itu, maka buku ini menjadi tambahan pengetahuan dan referensi bagi umat islam agar umat islam tidak melulu terjebak dengan doktrin kelompok-kelompok ekstrimis tersebut.

Peresensi adalah Anggota Center for Studi Of Islamic and Politic (CSIP)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Kita Semua Adalah Budak

Manusia mempunyai persamaan dengan hewan dalam hal makan-minum, melakukan seks dan mencari kenyamanan. Hanya kita makan steak weldone, hewan makan daging mentah. Kita melakukan seks sesuai etika masyarakat, hewan dengan siapa saja kapan libido naik. Kita tinggal di real estate, hewan di liang atau di semak. Bila kita masih dalam taraf seperti hewan tersebut, maka kita masih menjadi budak pancaindra. Diri kita bukanlah budak pancaindra, tetapi penguasa. Jika saat ini masih diperbudak, bukanlah kesalahan pancaindra, tetapi kesalahan kita yang mau menjadi budak. Adalah kesalahpahaman bahwa kita tidak mampu membebaskan diri dari perbudakan “ciptaan” kita sendiri.

Pak Anand Krishna bukan hanya membicarakan manusia sebagai budak pancaindra saja, tetapi menjelaskan bahwa kita semua masih menjadi budak, dan ini tidak menyangkut diri kita pribadi, tetapi diri kita sebagai anak-anak bangsa……. Ribuan tahun berlalu sudah, tetapi kondisi ini tidak berubah banyak. Bangsa yang kehilangan rasa percaya dirinya dapat diperbudak dengan sangat mudah. Keadaan negeri kita saat ini kurang lebih sama. Banyak sekali properti yang sudah pindah tangan. Banyak spekulan asing yang menguasai lahan kita. Kita sedang mengalami proses penjajahan. Rakyat kita sedang mengalami proses perbudakan. Dulu kita dijajah fisik, sekarang dijajah ekonomi. Dulu penguasa adalah penjajah , kini penguasa adalah anak bangsa sendiri. Tetapi tetap saja kita menjadi budak yang penakut. Takut oleh fatwa, takut “comfort zone” kita terancam. Dan kita tutup mata terhadap penderitaan anak-anak bangsa lainnya. Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan” beliau menyampaikan…. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. la mulai berkompromi dengan keadaan. la menganggap perbudakan itu sebagai kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. la diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. la diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kita semua adalah Yudas

Seorang Judas muncul dari waktu ke waktu. Dia tidak pernah menghianati Tuhan. Dia tidak dapat melakukan hal itu. Dia mengkhianati dirinya sendiri. Dia mengkhianati kesadarannya sendiri. Dia melawan kodratnya sendiri. Dia melakukan sesuatu yang dia sadar dia tidak seharusnya dia lakukan. Dia sudah “meninggalkan” Tuhan yang merupakan kebenaran jiwanya sendiri. Dia meninggalkan sumber sejati untuk minum dari sumber yang lebih rendah.

Mereka yang bersaksi penuh kepalsuan. Seorang hakim yang memutuskan sesuatu melawan hati nuraninya, seorang jaksa yang menuntut dengan kecerdikan pikirannya dan melupakan kebenaran mereka bagaikan Yudas.

Karena itu aku mendukung Pak Anand berpuasa makan. Pak Anand pada hari ini sudah memasuki hari ke 26. Pak Anand mendapatkan perlakuan sidang yang tidak adil……

Banyak sekali indikasi bahwa sidang sudah tidak fair dan objektif lagi, berikut ini beberapa poin penting yang mengindikasikan hal tersebut : Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , , | Meninggalkan komentar